Leave a comment

Pecinta Harta

Ada seorang lelaki, umurnya hampir 60 tahun. Ia pengusaha yang sangat kaya, sangat sukses. Hanya satu kurangnya. Ia tak beragama. Mengaku Islam tapi tak pernah sholat, tak pernah puasa. Bahkan dengan santainya ia meminum kopi dan merokok di siang hari saat bulan puasa. Jika bersedekah atau berzakat selalu ia umumkan kemana-mana. Dan selalu ia ungkit-ungkit telah menyumbang sekian. Ia sudah menunaikan ibadah haji. Meskipun ia tidak pernah sholat. Tak ada yang tahu apa yang ia lakukan selama di tanah suci, hanya Allah yang tahu.

Ia menikmati kekayaannya sendiri. Istrinya hanya diberi jatah bulanan. Tapi istrinya tak keberatan karena ia sangat menyukai statusnya sebagai istri orang kaya, meski ia tidak hidup bergelimang uang. Istrinya tetap bertahan meski sang suami berkhianat berulang-ulang, karena tak ingin kehilangan statusnya apabila bercerai. Mereka memiliki tiga orang putra. Tak satupun putranya yang bekerja dengan ayahnya. Bukan karena tak mau, tapi karena sang ayahlah yang yakin anak-anaknya tak bisa apa-apa. Pada saat satu persatu putranya meninggalkannya, ia tak menyesal, malah memaki-maki mereka sebagai anak tak tahu diri. Ia bahkan merasa senang tak perlu membagi hartanya pada putra-putranya. Sang istri pun membela sang suami, dan menyalahkan ketiga putranya. Bahkan tak segan sang ibu memfitnah putranya hanya karena ingin menunjukkan diri mendukung tindakan dan ucapan suaminya. Ketiga putranya hanya bisa bersabar dan berdoa. Mereka tetap menjaga hubungan baik dengan orangtuanya. Meskipun sikap orang tua mereka sangat palsu, bermanis muka di depan, tapi di belakang mencibir dan menghina.

Hanya satu yang ditakuti oleh sang ayah, yaitu sakit. Padahal ia tidak sedang mengidap penyakit apapun. Ia takut sekali sakit, karena ia takut mati. Jauh di lubuk hatinya ia ingin hidup abadi, menikmati kekayaannya sendiri. Ia belum rela jika harus berpisah dengan harta dunianya. Ia benar-benar seorang pecinta harta.

Suatu hari setelah ketiga putra meninggalkan mereka, sang suami mendepak istrinya begitu saja. Tanpa diberi apapun, tanpa dicerai. Sang suami memilih hidup dengan peagawainya yang telah menjadi wanita simpanannya selama ini. Sang istri bingung, menyesal dan meratapi nasibnya. Ia datangi ketiga putranya, yang ternyata dengan senang hati menerima sang bunda.

Sementara sang suami merasa sangat bahagia. Satu persatu penghalang kebahagiaannya telah ia singkirkan. Ia sangat bahagia.

Tapi satu yang tak ia pikirkan. Suatu saat ia akan mati…
Akankah ia bawa hartanya ke kuburnya?
Akankah ketiga putranya mendoakannya?
Akankah hartanya dapat menyelamatkannya dari hukuman Allah?

Ia tak pernah memikirkannya, karena semboyan hidupnya “Uang Bisa Membeli Segalanya”…

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.
Sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
QS.At Takaatsur:1-2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s