Leave a comment

Anak…

Seorang ibu memiliki satu orang putra dan dua orang putri. Sejak kecil ia selalu membedakan kasih sayang antara putra dengan putri-putrinya. Ia kerap memarahi putranya hanya karena kesalahan sepele. Tak pernah ia bersenda gurau dengannya. Jika putranya menanyakan sesuatu karena keingintahuannya sebagai anak kecil, ibunya selalu menjawab tidak tahu, bahkan seringkali ibunya diam seolah-olah tak mendengar.
Sementara kedua putrinya mendapat limpahan kasih sayang, selalu mendapat mainan baru, pakaian baru. Bahkan makan pun dengan lauk yang lebih banyak daripada putranya. Ibunya hanya bergurau dan bermain dengan putri-putrinya, selalu menjawab pertanyaan mereka. Akhirnya sang putra tumbuh sebagai anak yang pemurung..
Hingga di suatu masa, setelah ketiganya menikah tinggallah sang ibu seorang diri. Kedua putrinya jarang menengoknya karena tinggal di luar kota. Hanya sang putra yang rutin menjenguknya, membawakan makan siang, membawakan seplastik buah-buahan, dll. Namun sang ibu tetap bersikap seperti biasanya, cuek dan dingin.
Pada saat sang ibu mulai sakit-sakitan, sang putra membawanya ke rumahnya, merawatnya, memenuhi segala permintaannya. Kedua putrinya hanya menjenguknya seminggu sekali.
Dan pada akhirnya saat ibunya semakin renta, menjelang kematiannya, ia bertanya pada putranya.
“Mengapa kamu tetap bersikap baik bahkan merawatku meski sikapku sangat tidak menyenangkan padamu?”
Sang putra menjawab,
“Karena kau adalah ibuku, yang telah mengandungku, melahirkan aku, menyusuiku, dan membesarkan aku. Apapu yang kulakukan tak kan mampu mengembalikan setiap tetes darahmu yang mengalir dalam darahku. Yang bisa kulakukan hanyalah berbakti kepadamu.”
Menangislah sang ibu..menyesal, lalu ia berdoa,
“Ya Allah Kau telah memberiku tiga orang anak. Kusayangi yang dua dan kusia-siakan yang satu. Padahal kau telah menjadikan yang satu ini sebagai anak yang berbakti padaku. Maka ampunkanlah segala dosanya, rahmatilah hidupnya dan berkahilah jalannya. Sesungguhnya dialah anak yang akan mendoakan aku, maka perkenankanlah doanya…”
Setelah berdoa sang ibu mencium kening putranya, sesaat kemudian ia pun meninggal dunia.

Berapapun anak yang kita miliki, kita tak akan tahu yang manakah yang akan tulus menyayangi kita, yang akan berbakti kepada kita dan yang akan mendoakan kita setelah kita meninggal. Maka jangan sampai kita menyia-nyiakan rezki dari Allah ini. Kita didik mereka semampu kita. Hasilnya kita pasrahkan pada Allah SWT.

Sumber : Iin Yuliana Manopo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s